Taneh Karo Simalem Bumi Turang

23 September 2018

Jusup Sitepu & The Giant Group Anak Jakarta Lagu Karo

Perdalanndu e ari turang
Penerengndu e ku kelengi
Enggo lebihsa turang
Enggo nambahsa

Ku lebuh la aloindu
Kudilo la serengkenndu
Perbahan kena enggo "Anak Jakarte"
Lanai teh ndu cakap karo
"Brengsek lu" nindu turang
Potongen ayondu labo kuakap min njoresa

Ula bage turang uda
Mela bage nande biring
Ula bage keleng kel ateku
Ula bage jadi ate
Ula bage morah ate
Ula bage turang, morah ate

18 September 2018

Bagi Si Ndurung Odang

Setahun silewat pusuh terluka
Seh ngasa gundari tergejab denga
Mberat kel pusuhku natang-natangsa
Penadingken nande biring si ateku ngena

Gundari seh masana bagindu
Nuriken ukur serbut nangdangi aku
Enggo mosar arihndu ras seninaku
Makana aku nd biring penundalenndu

Keri lalitna teman geluhndu
Aloken aku Tigan nindu
Rulih-ulih ukurndu bangku
Bagi kalak si ndurung odang

Nd biring lanai, lanai ku ngasup agi
Rulih-ulih rate mesui
Ula lebe soal enggo ku dat sambar gantindu
Tapi terlanjur pusuhku ceda

17 September 2018

Desa Surbakti Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo

Desa Surbakti berada di Kabupaten Karo dan termasuk ke dalam kecamatan Simpang Empat yang merupakan salah satu desa tua. Awal mula terbentuknya desa Surbakti, berawal dari pendiri desa atau dalam bahasa karo disebut Simanteki Kuta adalah marga Karo Karo Surbakti. Karo-Karo Surbakti yang mendiami desa tersebut membagi 4 bagian dalam wilayah tempat mereka tinggal atau dalam bahasa karonya ialah Kesain, yaitu :

  1. Kesain Surbakti Rumah Lige
  2. Kesain Surbakti Rumah Suah
  3. Kesain Surbakti Rumah Jahe
  4. Kesain Ginting Rumah page/Suka pengulun.
Seperti pada penjelasan di atas Masyarakat di Desa Surbakti mayoritas bersuku Karo dan yang membentuk atau Simanteki Kuta juga adalah suku Karo sendiri. Seiring perkembangan zaman dalam perjalanan waktu, masyarakat di desa Surbakti pun semakin bertambah dengan adanya perkawinan dari daerah desa lain dan dengan datangnya masyarakat dari desa lain ataupun suku lain walaupun dalam jumlah yang tidak terlalu besar.

06 September 2018

Sejarah Desa Sembahe

Desa Sembahe pendiri kampung tersebut adalah orang yang bermarga Tarigan dan Ketaren (Karo-Karo). Orang yang pertama membuka lahan ialah marga Ketaren. Cerita yang berkembang dalam masyarakat terutama para orang tua tentang Sembahe adalah dahulu kala ada sebuah sebongkah batu besar berdiri kokoh di atas sebidang tanah. Gua Batu tersebut memiliki pintu dan ada ruangan didalamnya kira-kira 3x2 meter. Penduduk sekitar mempercayai jika Gua tersebut merupakan sebagai tempat tinggal Umang. Pada Kala itu, ada sebuah perkampung kecil di daerah Tanah Karo. Masyarakat setempat menyebutnya Kampung Uruk Rambuten. Tidak banyak yang tinggal disana, hanya beberapa keluarga saja dan rumah-rumah mereka dikelilingi pohon beringin yang besar, perkampungan kecil tersebut hanya dihuni oleh marga Ketaren.

03 September 2018

Gua Umang di Desa Sembahe

Gua Umang atau Gua Kemang (Gua Batu) berada di Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Tanah Karo Sumatera Utara. Jarak Gua Kemang dari desa Sembahe, kira-kira jaraknya 1KM atau sekitar 15 atau 30 menit dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan, kita akan disuguhkan suasana hijau dan sejuk sepanjang perjalanan dan dijamin tidak akan bosan, apalagi sambil melihat-lihat pepohonan dan bukit-bukit disepanjang jalan. Setelah sampai di gerbang Gua Kemang, kita akan  menaiki tangga. Untuk menuju keatas kira-kira ada sekitar 60an anak tangga. Disi kiri dan kanan terdapat deretan pohon yang  rindang, yang dahulunya dijadikan oleh warga sekitar sebagai tempat untuk bercocok tanam. Gua Kemang ini terlihat memang biasa, tapi dibalik sisi Gua Kemang ada sesuatu yang unik serta cerita mistis.

30 Agustus 2018

Sejarah Desa Sukatendel

Desa Sukatendel pada awalnya merupakan sebuah kawasan hutan yang belum dijamah oleh masyarakat disekitarnya. Menurut cerita yang diperoleh, sepasang suami-istri bernama Suka dan Tendel membuka lahan baru di sana untuk dijadikan ladang. Mereka membangun barung yaitu sejenis pondok atau Sapo sebagai tempat untuk berteduh. Hal ini kemudian ditiru oleh orang-orang lain yang ikut mendirikan barung mereka sendiri di tempat tersebut. Maka terbentuklah beberapa barung yang disebut dengan barung-barung. Mereka akhirnya mulai bertempat tinggal di barung-barung tersebut. Mereka juga mengikut-sertakan sanak keluarga mereka ke tempat ini. Sedikit demi sedikit orang dari wilayah lain juga mulai berdatangan dan lama kelamaan terbentuklah sebuah komunitas, di mana pada akhirnya mereka memutuskan untuk membangun sebuah desa. Penduduk di desa yang baru ini memutuskan untuk memberi nama desa mereka dengan nama pendirinya, Suka dan Tendel. Untuk kesan praktis, kedua nama mereka digabung sehingga menjadi "Sukatendel".

29 Agustus 2018

Sejarah Desa Sikeben

Desa Sikeben konon ceritanya pada waktu warga sekitar sedang menggarap lahan ada seorang warga mencoba untuk menanam padi pada tempurung dan tanpa di duga hasilnya sangat memuaskan. Oleh karena itu, warga setempat kembali mencoba menambur benih padi untuk ditanam dipersawahan dan ternyata hasilnya tidak mengecewakan. Selang berapa tahun hasil dari panen padi begitu melimpah, masyarakat pun mendirikan 2 tempat untuk padi yg dinamakan Lumbung Padi. Keben dalam bahasa karo berarti Lumbung Padi.

Desa Sikeben didirikan oleh Merga Sinuhaji yang berasal dari Desa Aji Empat di Kabupaten Karo. Masyarakat Desa Sikeben awalnya hanya sebuah desa kecil yang dikenal orang dulunya adalah dengan nama Sikeben Kuta. Pemerintahan waktu itu dipegang oleh penghulu dibantu oleh seorang anak beru. Pengulu yang dikenal pada waktu itu adalah bapa Gempang Sinuhaji yang disegani dan dihormati rakyat. Simanteki Kuta desa Sikeben adalah Merga Sinuhaji, dan yang menjadi Kalimbubunya Merga Sembiring dan Anak Berunya Merga Tarigan. Desa Sikeben adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara.

28 Agustus 2018

Sejarah Desa Bunuraya

Desa Bunuraya, ada dua penjelasan mengenai sejarah tentang desa ini yang diperoleh dari beberapa pihak yang pernah memiliki kedudukan di pemerintahan Desa Bunuraya. Penjelasan pertama adalah nama Desa Bunuraya berhubungan dengan Merga Sinuraya sebagai Simanteki Kuta (orang yang pertama membuka desa). Sering terjadi kesalahpahaman antara Merga Simanteki Kuta dengan pendatang pada waktu itu sebagai pemicu ingin membunuh merga Sinuraya. Karena itulah desa tersebut diberi nama Desa Bunuraya, yang diambil dari kata bunu(h) dan raya.

Penjelasan kedua adalah institusi raja yang bertempat di Tanah Karo diciptakan oleh Sultan Aceh yang diteruskan oleh Belanda dengan membuat pernyataan pendek dengan raja-raja Karo yang memutuskan 5 kerajaan atau Sibayak di Tanah Karo, yaitu :

27 Agustus 2018

Sejarah Desa Lau Simomo

Desa Lau Simomo yang dahulu merupakan salah satu daerah Sibayak Lingga karena berada dalam wilayah Urung Sepuluh Dua Kuta. Dan sekarang termasuk salah satu desa di Kecamatan Kabanjahe. Dapat diketahui bahwa desa Lau Simomo merupakan desa yang khusus dibentuk untuk penampungan penderita kusta oleh keempat sibayak. Adapun arti Lau Simomo berasal dari bahasa Karo. Lau berarti air dan Simo berarti penyakit. Sehingga dapat diartikan bahwa air yang membersihkan atau air yang menyembuhkan penyakit. Tetapi ada juga yang mengatakan Lau Simomo berasal dari kata lau yang berarti air atau sungai dan kata momo yang berarti pengumuman karena dahulu dibuat pengumuman bahwa desa itu menjadi tempat penampungan penderita kusta.

Penetapan lokasi penampungan penderita kusta itu dipelopori oleh Van den Berg, karena keresahan penduduk dengan keberadaan penderita kusta di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Sibayak Kabanjahe yang bernama Sibayak Pa Pelita mengusulkan agar daerah Lau Simomo memjadi tempat penampungan penderita kusta. Adapun alasan beliau menunjuk daerah Lau Simomo menjadi penampungan penderta kusta disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :

26 Agustus 2018

Sejarah Desa Tangkidik

Desa Tangkidik awalnya terbentuk setelah bermukimnya masyarakat yaitu mayarakat Suku Karo khususnya merga Barus. Pada dasarnya setiap desa mempunyai latar belakang sejarahnya sendiri-sendiri. Demikian halnya dengan Desa Tangkidik.

Desa Tangkidik yang terletak di Kecamatan Barusjahe awalnya termasuk ke dalam salah satu kerajaan yaitu wilayah Kerajaan Barusjahe. Ketika Belanda masuk ke Tanah Karo, disana telah terdapat beberapa kerajaan salah satunya adalah Kerajaan Barusjahe. Pusat kerajaan ini berada di Desa Barusjahe yang pada periode 1980-1995 merupakan pusat Kecamatan Barusjahe.

Raja pertama dari Kerajaan Barusjahe ini adalah Si Mbelang Pinggel. Raja dari Kerajaan Barusjahe ini berasal dari salah satu marga yang ada di Karo yaitu merga Karo-karo Barus. Ada beberapa nama raja Kerajaan Barusjahe, antara lain Sibayak Ampang Barus, Sibayak Tanda Senina Barus, Sibayak Pa Unjuken Barus, Sibayak Pa Tempana Barus, Sibayak Pa Raja Mentas Barus, Sibayak Garang Barus, dan Sibayak Mandar Barus.