Taneh Karo Simalem Bumi Turang

19 Oktober 2009

Legenda Guru Pertawar Reme

Guru Pertawar Reme adalah seorang dukun terkenal di kawasan Tanah Karo. Dia mampu mengobati berbagai penyakit termasuk penyakit reme (cacar) yang mengerikan itu. Pada suatu ketika penyakit berkecamuk di daerah Alas (Aceh). Guru Pertawar Reme berangkat ke sana untuk mengobati penyakit tersebut. Berbulan-bulan lamanya dia di daerah itu dan telah banyak uang diperolehnya sebagai hasil dari pengobatannya.

Perjuangan Kiras Bangun ( Garamata )

Peranan Kiras Bangun / Garamata di Tengah Masyarakat Karo
Kiras Bangun lahir di Batukarang sekitar tahun 1852. penampilannya sederhana, berwibawa dengan gaya dan tutur bahasa yang simpatik. Masyarakat menamakan beliau Garamata yang bermakna “Mata Merah”. Masa mudanya ia sering pergi dari satu kampung ke kampung lain dalam rangkaian kunjungan kekeluargaan untuk terwujudnya ikatan kekerabatan warga Merga Silima serta terpeliharanya norma-norma adat budaya Karo dengan baik. 

Pemerintahan yang ada pada masa itu disebut pemerintahan Urung dan Kampung yang berdiri sendiri/otonomi. Jalannya roda pemerintahan dititikberatkan pada norma-norma adat. Tidak jarang pula terjadi sengketa antar Urung dan antar Kampung dengan motif berbagai macam persoalan.


Pihak-pihak yang bertikai, acap kali mengundang Garamata turut memecahkan persoalan. Dengan sikap jujur, berani dan bertanggung jawab Garamata bertindak tegas tetapi arif dan bijaksana, berlandaskan semboyan “Rakut Sitelu” (Kalimbubu, Sembuyak dan Anak Beru) yang sudah membudaya dalam kehidupan sehari-hari. 

Dalam bertindak beliau selalu berpegang teguh pada prinsip membenarkan yang benar, tidak berpihak, menyebabkan berbagai sengketa dapat diredakan secara damai yang memuaskan semua pihak. Simpati masyarakat tidak terbatas dikawasan Tanah Karo saja, melainkan meluas sampai ke daerah tetangga seperti: Tanah Pinem Dairi, Singkil Aceh Selatan, Alas Gayo Aceh Tenggara, Langkat dan Deli Serdang. Hubungan dengan daerah–daerah tersebut terpelihara serasi, terlebih-lebih kegigihan perlawanan rakyat Aceh Selatan dan Aceh Tenggara terhadap penjajah Belanda, dikagumi dan dipantau secara berlanjut.

08 Oktober 2009

Diperkirakan Tahun 2016 Gempa di Tanah Karo

Belajar dari Gempa San Fransisco dan Si Cuan China, IAGI Sumut Perkirakan: Tahun 2016 Gempa Berkekuatan di Atas 7 SR Akan Mengguncang Tanah Karo. Ketua Dewan Pakar Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumut Ir Jonathan Tarigan memprediksi, pada tahun 2016 akan terjadi gempa berkekuatan besar di Tanah Karo yang merupakan periode pengulangan (Reccurence Period) gempa yang terjadi pada tahun 1935 atau yang lebih dikenal dengan gempa Linor Batukarang yang berkekuatan 7,2 Skala Richter (SR). Hal itu ditegaskan Jonathan Tarigan setelah menganalisa sejumlah data dan fakta yang ada, serta sejumlah penelitian yang dilakukan oleh pakar geologi, bahwa periode pengulangan gempa untuk didarat akan terjadi dalam rentan waktu antara 70 sampai 80 tahun dan untuk di laut akan terjadi pengulangan 100 hingga 200 tahun.

Berkaitan dengan hal itu kata Jonathan, bila kita berpedoman pada analisa dan penelitian yang dilakukan oleh pakar geologi, maka peristiwa gempa Tanah Karo yang terjadi pada tahun 1936, akan terulang kembali pada tahun 2016. Sebagai contoh, gempa yang terjadi di San Fransisco pada tahun 1906 berkekuatan 8 SR terulang kembali pada tahun 1989, demikian juga halnya gempa yang terjadi di Si Cuan China pada tahun 1938 dengan ke-kuatan 7,9 SR yang menewaskan 80 ribu orang, terulang kembali pada tahun 2008. Dari kedua kedua peristiwa gempa ini, fakta menyebutkan telah terjadi pengulangan gempa dalam rentan waktu antara 70 hingga 80 tahun.

Dalam kesempatan itu, Jonathan Tarigan didampingi Ketua IAGI Sumut Ir.Gagarin Sembiring dan dua pengurus IAGI lainnya Ir Edi Maulana Barus dan N Sitepu menyebutkan, prediksi bakal terjadinya gempa di Tanah Karo yang berkekuatan di atas 7 SR ini, juga dilatarbelakangi letak geografis Tanah Karo yang berada di dua patahan gempa yakni patahan Renun dan Patahan Bahorok.

"Menurut peta rawan gempa yang kami miliki, gempa ber-kekuatan 7,5 SR yang mengguncang Sumatera Barat, juga berada sejajar dengan dua patahan patahan Renun dan Baho-rok yang saat ini sedang mengancam Tanah Karo". Jonathan mengakui, prediksi para pakar bisa saja meleset dari perkiraan, karena mereka juga manusia bukan Tuhan. Namun berdasarkan pengalaman dan fakta yang ada, prediksi tersebut juga ada yang mendekati kebenaran. Seperti halnya gempa yang melanda San Fransisco Amereika Serikat dan di Si Cuan China, kata Jo.

Apalagi dari penyusuran yang dilakukan para ahli geologi, bebatuan yang ada didaratan Tanah Karo sangat rapuh, dan mudah terjadi peng-hancuran bila sedikit saja terjadi gerakan. Yang kita khawatirkan kata Jonathan, gempa yang terjadi di Sumbar, akan mempengaruhi letak tanah dan bebatuan di Tanah Karo, karena kedua daerah ini berada sejaja-ran dengan daerah patahan yang berpotensi terjadinya gempa. Pada prinsipnya kata Jonathan, prediksi IAGI ini bukan untuk menakunakuti masyarakat, tetapi sebagai sinyal agar masyarakar waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa bumi, sehingga korban jiwa yang diakibatkannya dapat ditekan sekecil mungkin.

Berkaitan dengan hal itu Ketua IAGI Sumut Gagarin Sembiring juga menuturkan, sinyal bahwa Sumut, khususnya Tanah Karo berada dalam wilayah yang berpotensi terjadinya gempa, hendaknya disikapi secara cepat dan tepat oleh Pemerintah Provinsi maupun kabupaten\kota, dalam upaya mengantisipasi secara dini terhadap bahaya dengan mengambil langkah-langkah preventif. "Secara keilmuan, apa yang dikemukakan IAGI menyangkut prediksi bahwa daratan Sumatera berada dalam potensi rawan gempa, termasuk beberapa daerah di Sumut, itu bisa dipertanggung jawabkan, karena kita memiliki data yang valid untuk itu. Jadi dalam hal ini kita bukan asal bicara", tegas Gagarin Sembiring.