Taneh Karo Simalem Bumi Turang

17 September 2018

Desa Surbakti Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Karo

Desa Surbakti berada di Kabupaten Karo dan termasuk ke dalam kecamatan Simpang Empat yang merupakan salah satu desa tua. Awal mula terbentuknya desa Surbakti, berawal dari pendiri desa atau dalam bahasa karo disebut Simanteki Kuta adalah marga Karo Karo Surbakti. Karo-Karo Surbakti yang mendiami desa tersebut membagi 4 bagian dalam wilayah tempat mereka tinggal atau dalam bahasa karonya ialah Kesain, yaitu :

  1. Kesain Surbakti Rumah Lige
  2. Kesain Surbakti Rumah Suah
  3. Kesain Surbakti Rumah Jahe
  4. Kesain Ginting Rumah page/Suka pengulun.
Seperti pada penjelasan di atas Masyarakat di Desa Surbakti mayoritas bersuku Karo dan yang membentuk atau Simanteki Kuta juga adalah suku Karo sendiri. Seiring perkembangan zaman dalam perjalanan waktu, masyarakat di desa Surbakti pun semakin bertambah dengan adanya perkawinan dari daerah desa lain dan dengan datangnya masyarakat dari desa lain ataupun suku lain walaupun dalam jumlah yang tidak terlalu besar.

06 September 2018

Sejarah Desa Sembahe

Desa Sembahe pendiri kampung tersebut adalah orang yang bermarga Tarigan dan Ketaren (Karo-Karo). Orang yang pertama membuka lahan ialah marga Ketaren. Cerita yang berkembang dalam masyarakat terutama para orang tua tentang Sembahe adalah dahulu kala ada sebuah sebongkah batu besar berdiri kokoh di atas sebidang tanah. Gua Batu tersebut memiliki pintu dan ada ruangan didalamnya kira-kira 3x2 meter. Penduduk sekitar mempercayai jika Gua tersebut merupakan sebagai tempat tinggal Umang. Pada Kala itu, ada sebuah perkampung kecil di daerah Tanah Karo. Masyarakat setempat menyebutnya Kampung Uruk Rambuten. Tidak banyak yang tinggal disana, hanya beberapa keluarga saja dan rumah-rumah mereka dikelilingi pohon beringin yang besar, perkampungan kecil tersebut hanya dihuni oleh marga Ketaren.

03 September 2018

Gua Umang di Desa Sembahe

Gua Umang atau Gua Kemang (Gua Batu) berada di Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Tanah Karo Sumatera Utara. Jarak Gua Kemang dari desa Sembahe, kira-kira jaraknya 1KM atau sekitar 15 atau 30 menit dengan berjalan kaki. Dalam perjalanan, kita akan disuguhkan suasana hijau dan sejuk sepanjang perjalanan dan dijamin tidak akan bosan, apalagi sambil melihat-lihat pepohonan dan bukit-bukit disepanjang jalan. Setelah sampai di gerbang Gua Kemang, kita akan  menaiki tangga. Untuk menuju keatas kira-kira ada sekitar 60an anak tangga. Disi kiri dan kanan terdapat deretan pohon yang  rindang, yang dahulunya dijadikan oleh warga sekitar sebagai tempat untuk bercocok tanam. Gua Kemang ini terlihat memang biasa, tapi dibalik sisi Gua Kemang ada sesuatu yang unik serta cerita mistis.

30 Agustus 2018

Sejarah Desa Sukatendel

Desa Sukatendel pada awalnya merupakan sebuah kawasan hutan yang belum dijamah oleh masyarakat disekitarnya. Menurut cerita yang diperoleh, sepasang suami-istri bernama Suka dan Tendel membuka lahan baru di sana untuk dijadikan ladang. Mereka membangun barung yaitu sejenis pondok atau Sapo sebagai tempat untuk berteduh. Hal ini kemudian ditiru oleh orang-orang lain yang ikut mendirikan barung mereka sendiri di tempat tersebut. Maka terbentuklah beberapa barung yang disebut dengan barung-barung. Mereka akhirnya mulai bertempat tinggal di barung-barung tersebut. Mereka juga mengikut-sertakan sanak keluarga mereka ke tempat ini. Sedikit demi sedikit orang dari wilayah lain juga mulai berdatangan dan lama kelamaan terbentuklah sebuah komunitas, di mana pada akhirnya mereka memutuskan untuk membangun sebuah desa. Penduduk di desa yang baru ini memutuskan untuk memberi nama desa mereka dengan nama pendirinya, Suka dan Tendel. Untuk kesan praktis, kedua nama mereka digabung sehingga menjadi "Sukatendel".

29 Agustus 2018

Sejarah Desa Sikeben

Desa Sikeben konon ceritanya pada waktu warga sekitar sedang menggarap lahan ada seorang warga mencoba untuk menanam padi pada tempurung dan tanpa di duga hasilnya sangat memuaskan. Oleh karena itu, warga setempat kembali mencoba menambur benih padi untuk ditanam dipersawahan dan ternyata hasilnya tidak mengecewakan. Selang berapa tahun hasil dari panen padi begitu melimpah, masyarakat pun mendirikan 2 tempat untuk padi yg dinamakan Lumbung Padi. Keben dalam bahasa karo berarti Lumbung Padi.

Desa Sikeben didirikan oleh Merga Sinuhaji yang berasal dari Desa Aji Empat di Kabupaten Karo. Masyarakat Desa Sikeben awalnya hanya sebuah desa kecil yang dikenal orang dulunya adalah dengan nama Sikeben Kuta. Pemerintahan waktu itu dipegang oleh penghulu dibantu oleh seorang anak beru. Pengulu yang dikenal pada waktu itu adalah bapa Gempang Sinuhaji yang disegani dan dihormati rakyat. Simanteki Kuta desa Sikeben adalah Merga Sinuhaji, dan yang menjadi Kalimbubunya Merga Sembiring dan Anak Berunya Merga Tarigan. Desa Sikeben adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara.

28 Agustus 2018

Sejarah Desa Bunuraya

Desa Bunuraya, ada dua penjelasan mengenai sejarah tentang desa ini yang diperoleh dari beberapa pihak yang pernah memiliki kedudukan di pemerintahan Desa Bunuraya. Penjelasan pertama adalah nama Desa Bunuraya berhubungan dengan Merga Sinuraya sebagai Simanteki Kuta (orang yang pertama membuka desa). Sering terjadi kesalahpahaman antara Merga Simanteki Kuta dengan pendatang pada waktu itu sebagai pemicu ingin membunuh merga Sinuraya. Karena itulah desa tersebut diberi nama Desa Bunuraya, yang diambil dari kata bunu(h) dan raya.

Penjelasan kedua adalah institusi raja yang bertempat di Tanah Karo diciptakan oleh Sultan Aceh yang diteruskan oleh Belanda dengan membuat pernyataan pendek dengan raja-raja Karo yang memutuskan 5 kerajaan atau Sibayak di Tanah Karo, yaitu :

27 Agustus 2018

Sejarah Desa Lau Simomo

Desa Lau Simomo yang dahulu merupakan salah satu daerah Sibayak Lingga karena berada dalam wilayah Urung Sepuluh Dua Kuta. Dan sekarang termasuk salah satu desa di Kecamatan Kabanjahe. Dapat diketahui bahwa desa Lau Simomo merupakan desa yang khusus dibentuk untuk penampungan penderita kusta oleh keempat sibayak. Adapun arti Lau Simomo berasal dari bahasa Karo. Lau berarti air dan Simo berarti penyakit. Sehingga dapat diartikan bahwa air yang membersihkan atau air yang menyembuhkan penyakit. Tetapi ada juga yang mengatakan Lau Simomo berasal dari kata lau yang berarti air atau sungai dan kata momo yang berarti pengumuman karena dahulu dibuat pengumuman bahwa desa itu menjadi tempat penampungan penderita kusta.

Penetapan lokasi penampungan penderita kusta itu dipelopori oleh Van den Berg, karena keresahan penduduk dengan keberadaan penderita kusta di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Sibayak Kabanjahe yang bernama Sibayak Pa Pelita mengusulkan agar daerah Lau Simomo memjadi tempat penampungan penderita kusta. Adapun alasan beliau menunjuk daerah Lau Simomo menjadi penampungan penderta kusta disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :

26 Agustus 2018

Sejarah Desa Tangkidik

Desa Tangkidik awalnya terbentuk setelah bermukimnya masyarakat yaitu mayarakat Suku Karo khususnya merga Barus. Pada dasarnya setiap desa mempunyai latar belakang sejarahnya sendiri-sendiri. Demikian halnya dengan Desa Tangkidik.

Desa Tangkidik yang terletak di Kecamatan Barusjahe awalnya termasuk ke dalam salah satu kerajaan yaitu wilayah Kerajaan Barusjahe. Ketika Belanda masuk ke Tanah Karo, disana telah terdapat beberapa kerajaan salah satunya adalah Kerajaan Barusjahe. Pusat kerajaan ini berada di Desa Barusjahe yang pada periode 1980-1995 merupakan pusat Kecamatan Barusjahe.

Raja pertama dari Kerajaan Barusjahe ini adalah Si Mbelang Pinggel. Raja dari Kerajaan Barusjahe ini berasal dari salah satu marga yang ada di Karo yaitu merga Karo-karo Barus. Ada beberapa nama raja Kerajaan Barusjahe, antara lain Sibayak Ampang Barus, Sibayak Tanda Senina Barus, Sibayak Pa Unjuken Barus, Sibayak Pa Tempana Barus, Sibayak Pa Raja Mentas Barus, Sibayak Garang Barus, dan Sibayak Mandar Barus.

24 Agustus 2018

Sejarah Desa Ketaren

Desa Ketaren awalnya hanyalah daerah perladangan dari merga Ketaren yang berasal dari Desa Raya. Namun dikarenakan semakin luasnya lahan dan jumlah penduduk di Desa Raya yang semakin banyak maka kompleks perladangan ini berubah menjadi kompleks pemukiman. Orang- orang dari desa sekitar seperti Desa Raya dan Desa Rumah Kabanjahe yang berbatasan langsung dengan Desa Ketaren mulai berdatangan dan ikut membuka lahan serta menetap di Desa Ketaren.

Seperti hal nya desa-desa yang ada di Kabupaten Karo pada umumnya, desa Ketaren juga memiliki Simantek Kuta (orang yang pertama membuka desa). Adapun simantek kuta desa Ketaren berasal dari sub merga (sub klan) Ketaren yang merupakan bagian dari merga (klan) Karo-Karo. Dari sub merga (sub klan) inilah kemudian dikenal nama Kuta Ketaren (Kampung orang yang bermarga Ketaren) atau Desa Ketaren.

Pada awal masa setelah kemerdekaan, Desa Ketaren pernah dikosongkan oleh masyarakat setempat oleh karena Agresi Militer Belanda I yang memaksa masyarakat setempat mengungsi ke tempat yang aman. Pada masa itu tentara Belanda membumihanguskan semua desa yang mereka lalui di Tanah Karo tanpa terkecuali Desa Ketaren yang karena letaknya berada dekat jalur Medan-Kabanjahe. Setelah berakhirnya Agresi Militer Belanda I penduduk kembali ke Desa Ketaren, tidak hanya penduduk desa mula-mula namun ada juga penduduk desa lain yang memilih untuk ikut menetap dan membuka lahan pemukiman baru di Desa Ketaren tepatnya di sepanjang Jalan Djamin Ginting.

18 Agustus 2018

Tempat Wisata Di Tanah Karo

Tempat Wisata Di Tanah Karo
Dari identifikasi yang telah dilakukan oleh Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Karo, tinjauan beberapa kebijakan dan hasil pengamatan survey lapangan terdapat obyek wisata alam, obyek wisata budaya, peninggalan sejarah serta beberapa atraksi wisata yang menyebar di setiap wilayah kecamatan, Kabupaten Karo. Berdasarkan temuan dari Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kabupaten Karo Profil singkat berbagai potensi pariwisata yang ada di Kabupaten Karo adalah sebagai berikut :

GUNUNG SIBAYAK
Gunung Sibayak dalam keadaan aktif berlokasi di atas ketinggian 2.172 M dari permukaan laut. Jika ingin mendaki Gunung Sibayak kita harus melewati belantaranya hutan dan banyak tebing serta tantangan pada puncak gunung di dataran untuk berkemah. Di puncak gunung terdapat kawah dan magma serta pemandangan yang sangat indah sekali. Untuk mendaki gunung Sibayak dapat didaki melalui dua tempat yaitu dari Desa Semangat Gunung dan Desa Jaranguda.. Untuk mendaki gunung ini melalui jalan setapak dibutuhkan waktu sekitar 3 jam. Gunung ini telah memiliki jalan aspal sampai ke puncaknya, saat ini kita dapat mencapai puncak gunung dengan kendaraan sampai di Bukit Kapur dan melakukan pendakian ke puncak dengan waktu tempuh 30 menit.

GUNUNG SINABUNG
Gunung Sinabung merupakan gunung berapi memiliki ketinggian 2.417 meter dari permukaan laut dan berada di Desa Kuta Gugung Kecamatan Naman Teran. Untuk mendaki Gunung Sinabung sangat penuh dengan tantangan dimana harus melewati belantara hutan begitu juga tebing yang terjal. Sepanjang jalan pendakian kita akan menemukan berbagai tumbuhan langka, pohon berumur ratusan tahun dan satwa liar yang masih hidup bebas tanpa gangguan manusia. Terdapat hamparan tempat untuk berkemah pada puncak Gunung Sinabung, bahkan kita bisa memandang ke wilayah Langkat, Simalungun, bahkan Dairi, serta seluruh wilayah Kabupaten karo. Sama dengan Gunung Sibayak, Gunung Sinabung pun dapat kita daki melewati dua tempat yaitu melewati Desa Mardingding dan melalui Objek Wisata Lau Kawar. Pendakian dari Desa Lau Kawar dan Desa Mardingding memakan waktu ± 4 jam. Gunung ini tidak pernah tercatat meletus sejak tahun 1600, tetapi mendadak aktif kembali dengan meletus pada tahun 2010 dan sampai sekarang 2018, Status gunung ini dinaikkan menjadi Awas. BPBD menetapkan radius aman 5 Km dari puncak gunung sinabung.

16 Agustus 2018

Biografi Djaga Depari

Djaga Depari dilahirkan di Desa Seberaya, Kecamatan Tiga Panah, Kabupaten Karo pada tanggal 5 Mei 1922. Ayah Djaga Depari adalah Ngembar Sembiring Depari. Ayahnya bekerja sebagai seorang mandor besar Wer bas elkawe (Perusahaan Pekerjaan Umum) Deli Hulu pada masa penjajahan Belanda. Ibu Djaga Depari adalah Siras br Karo Sekali. Djaga depari mempunyai empat saudara perempan dan satu saudara laki-laki. Djaga Depari merupakan anak kedua. Berikut nama-nama saudara-saudari Djaga Depari : Tempatbr Depari, Djalim Depari, Nengeni br Depari, Ngasali br Depari dan Senter br Depari.

Sejak usia dini, walaupun Djaga Depari seorang anak mandor, namun dalam pergaulan beliau tidak tinggi hati, melainkan menyatu dan membaur dengan anak-anak sebayanya. Sebagai anak yang masih kecil, seperti kebiasaan masyarakat di desanya, pekerjaan sehari-hari di samping sekolah hanyalah bermain-main dan bersenang-senang saja, tidak pernah memikirkan segala sesuatunya yang diperlukan. Sebab, meskipun sesuatunya sangat sederhana, namun karena didikan kedua orang tuanya, semuanya diterima apa adanya. Djaga Depari di lingkungan keluarga, kerabat, teman dekat sering dipanggil Djaga atau Depari saja. Teman satu permainan beliau sama seperti anak lainnya yang bermain dengan anak biasa tanpa memandang apa kedudukan orang tua mereka.

Umumnya pada jaman penjajahan, tidak sembarangan orang yang dapat bersekolah. Hal itu disebabkan mahalnya biaya sekolah pada saat itu. Karena Djaga Depari anak seorang mandor, beliau dapat langsung dimasukkan ke sekolah Belanda. Pendidikan dasar Djaga Depari dimulai pada tahun 1935. Saat itu beliau disekolahkan di salah satu sekolah Belanda yaitu di Christelijk Hollandsch Inlandche School (Christelijk HIS).

15 Agustus 2018

Sejarah Desa Lingga

Desa Lingga dahulunya markas kerajaan Lingga dan rajanya atau pemimpin wilayah tersebut bergelar atau dinamai Sibayak Lingga. Raja Linge di Gayo (Aceh) masih ada hubungan keluarga dengan Sibayak Lingga yg pertama. Asal muasal karo-karo Lingga berasal dari kerajaan Lingga Raja (Dairi Buntul Lingga / Aceh Gayo Lues).

Pada suatu hari kerajaan Lingga mendapat bala yang menyedihkan sekali bagi keluarga dan penduduk, karena Raja Lingga sakit keras. Keadaan penyakit Raja Lingga semakin parah, akan tetapi dengan petunjuk Tuhan Yang Maha Esa dan pertolongan guru/dukun mbelin pak-pak pitu sendalanen, Raja Lingga dapat diobati dengan syarat anak yang termuda harus pergi dari Desa Lingga Raja untuk selamanya dan tidak akan kembali. Demi keselamatan kerajaan Lingga Raja, maka anak yang bungsu menerima persyaratan dari guru mbelin pak-pak pitu sendalanen.

Sejarah Desa Raya

Desa Raya, sama seperti desa-desa pada umumnya dimana desa Raya ini juga mempunyai pendiri kampung (Simantek Kuta) yaitu klan dari keluarga Ketaren dengan anak beru Ginting dan senina klan dari marga Purba. Desa Raya adalah desa yang tidak diketahui secara jelas sejak kapan berdirinya. Dulunya desa Raya ini adalah hutan belantara dan semak belukar dan masyarakat nya hidup di pinggir hutan dimana di daerah tempat tinggal nya itu sangat dekat dengan mata air yang selalu dipergunakan masyarakat desa untuk kebutuhan sehari-hari.

Tetapi pada tahun 1923, pemukiman masyarakat itu terbakar dan rata dengan tanah, sehingga pada saat itu orang yang paling berkuasa yang di kenal dengan Sibayak Lingga memerintahkan agar masyarakat yang tinggal di pinggir hutan dan terkena kebakaran dapat mengambil lahan tanah di sekitar hutan dengan bebas tanpa harus membayar kepada yang berkuasa, sehingga dengan perlahan masyarakat mulai membangun desa tersebut. Banyak masyarakat dari desa lain juga ikut mengambil bagian tanah dan mendirikan rumah bersama-sama. Ada yang mendirikan rumah Siwaluh Jabu, Siempat Jabu, dan Sisepuluh Dua Jabu.

14 Agustus 2018

7 Kelompok Orang Karo

Berikut akan di klasifikasikan ke dalam 7 kelompok pada orang Karo dan erat kaitannya dengan adat dan upacara perkawinan. Kelompok-kelompok ini dibuat berdasarkan daerah asal usul mereka. Kelompok-kelompok itu diantaranya adalah :
1. Karo Gugung / Teruh Deleng
Karo Gugung / Karo Teruh Deleng, bila diartikan dalam Bahasa Indonesia dibawah kaki gunung. Oleh karena itu sering disebut Karo Gunung, orang Karo yang berasal atau mendiami daerah gunung yang dari daerah Tiga Nderket dan Kuta Buluh. Orang Karo gugung dianggap paling mengerti dan memahami adat Karo karena dari sanalah awal mula suku Karo berkembang. Cakap Karo Gunung adalah istilah dialek bahasa Karo berasal dari daerah ini dan digunakan juga di daerah Mardingding, Tiga Binanga, Juhar dan Munthe.

13 Agustus 2018

Operasi Militer Bukit Bertah

Operasi Militer Bukit Bertah, Perang Kemerdekaan di Tanah Karo
Pada tanggal 7 Mei 1949 tercapainya persetujuan Roem Royen, yang isinya Belanda menyetujui pemulihan Republik Indonesia ke kota Jakarta sekaligus mengembalikan kedududkan semula Presiden dan Wakil Presiden Soekarno dan Moh Hatta, maka disepakati gencatan senjata antara RI dengan Belanda. Namun kenyataan dilapangan pada tanggal 6 dan 7 Mei Tentara Belanda akan mendatangkan Bala Bantuan dari kabanjahe ke Tiga Binanga, berita ini datang dari seorang anggota polisi Belanda yang berkebangsaan Indonesia.

Komandan Sektor III Mayor Selamat Ginting yang dikenal gagah dan lantang, kharismanya melingkupi seantero Tanah Karo. Kali ini memerintahkan tugas kepada kapten Pala Bangun wakil komandan Batalyon I, ditugaskan memimpin pasukan untuk menghadang iring-iringan tentara Belanda yang hendak masuk ke Aceh.

12 Agustus 2018

Djaga Depari Pada Masa Perang Kemerdekaan

Pada masa-masa pemerintahan Kolonial, Belanda tidak pernah memberi ruang kepada para seniman Indonesia untuk mengembangkan diri. Belanda tidak pernah menghargai karya-karya kesenian putra-putra Indonesia. Belanda berhasil menjatuhkan mental para seniman Indonesia sehingga mereka merasa tidak dihargai. Alasan yang tidak pernah diketahui mengapa Belanda melakukan hal itu adalah adanya kekhawatiran akan munculnya karya seni ciptaan kaum seniman yang berjiwa merdeka. Ini membuktikan bahwa sekecil apapun karya dari para seniman pada masa penjajahan sangat berpengaruh terhadap pola pikir seseorang.

Pada zaman pendudukan Jepang merupakan saat pematangan bagi pertumbuhan seni dan budaya. Pemerintah Jepang dalam menanggapi kehidupan seni dan budaya tidak mementingkan kedudukan sosial. Pada masa pendudukan Jepang kehidupan seni tampak lebih memasyarakat dibandingkan pada masa Kolonial Belanda. Banyak pemuda pelajar mulai ikut aktif dalam bidang seni budaya.

Kekuasaan Jepang tidak bertahan lama di Indonesia. Setelah kota Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom Atom oleh Amerika, akhirnya Jepang menyerah. Berakhirnya kekuasaan Jepang di Indonesia merupakan awal kebebasan bagi bangsa Indonesia. Hal ini juga sangat berdampak bagi perkembangan kebudayaan dan kesenian Indonesia. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan untuk berekspresi melalui karya seni yang diciptakan.

Berikut akan dibahas mengenai perjuangan-perjuangan serta keterlibatan seniman Djaga Depari dalam mempertahankan kemerdekaan serta melahirkan lagu-lagu Karo.

10 Agustus 2018

Sejarah Singkat Kiras Bangun (Garamata)

Kiras Bangun adalah anak dari Tanda Bangun dan dilahirkan oleh ibu br Ginting. Kiras Bangun akrab dengan nama panggilan sehari-hari Pa Ngapit Bangun alias Pa Garamata. Lahir pada tahun 1852 di Batu Karang, sebuah desa yang sekarang termasuk Kecamatan Payung, Kabupaten Karo. Beliau bersaudara 6 orang. Garamata memiliki 14 orang anak yang dilahirkan oleh 6 orang istri yang terdiri dari 7 anak laki-laki dan 7 anak perempuan.

Dalam sistem kekerabatan dan adat-istiadat Karo dalam tradisi pemena, sistem perkawinan poligami bukanlah merupakan hal yang tabu. Setiap pria Karo, jarang kita temukan beristri satu orang. Salah satu tujuan pernikahan poligami adalah untuk memperluas hubungan kekerabatan. Demikian juga halnya dengan Garamata, beliau memiliki lebih dari satu istri, yakni enam orang. Adapun keenam istri dan anak dari Garamata adalah sebagai berikut :

09 Agustus 2018

Sejarah Desa Tanjung Pulo

Desa Tanjung Pulo menurut sejarahnya ada hubungannya dengan sejarah Merga Bangun yang mendirikan desa Tanjung Mbelang. Merga Bangun dari desa Tanjung Mbelang yang mendirikan desa Tanjung Pulo. Sebelum bernama Tanjung Mbelang penduduk masih bermukim di dekat sungai Lau Garut, akibat banyak masyarakat pada waktu itu yang menderita penyakit Laia-laia (dalam bahasa Karo), penyakit ini mirip dengan penyakit demam berdarah yang mengakibatkan banyak masyarakat desa meninggal. Penghulu desa berisiniatif mencari tempat yang lebih tinggi untuk bermukim.