Taneh Karo Simalem Bumi Turang

12 Agustus 2018

Djaga Depari Pada Masa Perang Kemerdekaan

Pada masa-masa pemerintahan Kolonial, Belanda tidak pernah memberi ruang kepada para seniman Indonesia untuk mengembangkan diri. Belanda tidak pernah menghargai karya-karya kesenian putra-putra Indonesia. Belanda berhasil menjatuhkan mental para seniman Indonesia sehingga mereka merasa tidak dihargai. Alasan yang tidak pernah diketahui mengapa Belanda melakukan hal itu adalah adanya kekhawatiran akan munculnya karya seni ciptaan kaum seniman yang berjiwa merdeka. Ini membuktikan bahwa sekecil apapun karya dari para seniman pada masa penjajahan sangat berpengaruh terhadap pola pikir seseorang.

Pada zaman pendudukan Jepang merupakan saat pematangan bagi pertumbuhan seni dan budaya. Pemerintah Jepang dalam menanggapi kehidupan seni dan budaya tidak mementingkan kedudukan sosial. Pada masa pendudukan Jepang kehidupan seni tampak lebih memasyarakat dibandingkan pada masa Kolonial Belanda. Banyak pemuda pelajar mulai ikut aktif dalam bidang seni budaya.

Kekuasaan Jepang tidak bertahan lama di Indonesia. Setelah kota Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom Atom oleh Amerika, akhirnya Jepang menyerah. Berakhirnya kekuasaan Jepang di Indonesia merupakan awal kebebasan bagi bangsa Indonesia. Hal ini juga sangat berdampak bagi perkembangan kebudayaan dan kesenian Indonesia. Kebebasan yang dimaksud adalah kebebasan untuk berekspresi melalui karya seni yang diciptakan.

Berikut akan dibahas mengenai perjuangan-perjuangan serta keterlibatan seniman Djaga Depari dalam mempertahankan kemerdekaan serta melahirkan lagu-lagu Karo.
Lagu yang berjudul “Erkata Bedil”, yang merupakan sebuah lagu perjuangan yang lahir pada saat mempertahankan kemerdekaan. Erkata Bedil adalah salah satu lagu perjuangan dari daerah Karo yang
diciptakan oleh almarhum Djaga Depari. Jika lagu ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, Erkata Bedil mengandung artian “bunyi/dentuman senjata”. Erkata Bedil i kuta Medan (bunyi/dentuman senjata di kota Medan) adalah kalimat pembuka dari syair lagu ini, serta di baris kedua dilanjutkan dengan kalimat ngataken kami maju ngelawan (sebagai pertanda/panggilan bagi kami untuk maju melawan). Itulah dua baris kalimat pada bait pembuka dari lagu karya Djaga Depari ini.

Lagu “Erkata Bedil” ini sangat besar pengaruhnya terhadap masyarakat dan pejuang pada saat itu. Terbukti dengan munculnya semangat yang berapi-api di front-front pertempuran dengan menyanyikan lagu Erkata Bedil ini, khususnya di daerah Tanah Karo. Rakyat pergi mengungsi juga diiringi oleh lagu Erkata Bedil ciptaan Djaga Depari ini.

Berkobarnya peperangan di kota Medan menjadi rasa tanggung jawab bagi pemuda/pemudi karo di wilayah-wilayah Tanah Karo lainnya untuk membantu saudara-saudaranya yang di Kota Medan. Perang di Medan adalah perang bagi seluruh wilayah dan masyarakat Karo, sehingga sering dikatakan “dari Medan Area menuju Karo Area”. Dari makna lagu tersebut kita dapat melihat gambaran betapa pentingnya kemerdekaan tersebut untuk dipertahankan.

Ada juga lagu yang berjudul "Sora Mido". Dalam lagu ini Djaga Depari menghimbau kepada para pemimpin bangsa, agar janganlah serakah dan main-main. Karena dulu, nyawa dan darah adalah taruhan untuk kemerdekaan bangsa ini. Lihatlah air mata anak yatim dan para janda, tutunlah teman kita yang timpang dan saling mengasihanilah kamu karena Cuma itulah tangisan dan tuntutan orang-orang yang berjuang.

Djaga Depari dalam perjuangannya sebagai Kepala Jawatan Penerangan Kecamatan Tiga Panah keluar masuk desa untuk melakukan penerangan. Melalui jawatan tersebut Djaga Depari membentuk group musik sandiwara disamping tugas pokoknya melakukan penerangan-penerangan tentang program pemerintah diselingi dengan hiburan rakyat kehampir seluruh desa-desa di Kabupaten Karo.

Disela-sela kesibukannya bekerja di Jawatan Penerangan inilah, Djaga Depari melatih pemuda-pemudi desa Seberaya belajar menari dan menyanyi sekaligus membentuk group Sandiwara desa bersama temannya Nuhit Bukit dan Dollar Depari. Group ini pada awalnya diberi nama Irama Desa, kemudian berubah menjadi Seni Drama Piso Serit dan berubah lagi menjadi Sinar Desa Piso Serit. Acara seni drama yang mereka kemas diberi tajuk Hiburan Pahlawan, Hiburan untuk Tentara, Hiburan Malam Minggu, Hiburan untuk Rakyat, dan Hiburan Penawar Rindu.

Bukan hanya di desa Seberaya saja, mereka juga diundang ke berbgai desa di Tanah Karo, bahkan sampai ke Simalungun, Deli Serdang dan Kota Medan. Mereka menghibur para pejuang dan masyarakat setempat yang menyukai adegan drama, lawakan, dan lagu perjuangan, khususnya lagu-lagu Djaga Depari. Lagu-lagu Djaga Depari banyak bertemakan cinta kepada alam semesta, cinta kepada lawan jenis, dan cinta terhadap
Perjuangan Tanah Air. Namun ada juga beberapa lagunya bertemakan nasehat, gotong-royong, kritik sosial, dan sebagainya.

Lagu yang diciptakan oleh Djaga Depari semasa perang kemerdekaan antara lain Famili Taksi, Erkata Bedil, Padang Sambo, Sora Mido, Tanah Karo Simalem, Rudang Mejile, Roti Manis, Tiga Sibolangit, Lasam-lasam, Make Ajar, Pecat-pecat Sebaraya, Didong-didong Padang Sambo, Io-io Lau Beringin, Andiko Alena, Sue-sue dan Rudang-rudang. Lagu-lagu tersebut sangat besar pengaruhnya terhadap masyarakat dan pejuang pada waktu itu.

Dalam perkembangan selanjutanya Djaga Depari yang berpangkat Sersan Mayor, bergabung menjadi anggota tentara sektor III yang berkedudukan di Sidikalang, yang pimpin oleh Mayor Selamat Ginting, dengan jabatan Seksi penyiaran Radio dan Sandiwara. Tugas utamanya adalah menginformasikan berita-berita pimpinan kepada laskarlaskar di pedalaman. Disamping itu Djaga Depari juga menghibur laskar dan
masyarakat melalui sandiwra yang dilakoninya. Hal ini semakin memperjelas keberadaan Djaga Depari selaku pemusik pejuang. Di saat itulah, dia mulai mengarah pada penciptaan lagu-lagu perjuangan, cinta sepasang manusia, dan keindahan alam.

Dalam menciptakan sebuah lagu, Djaga Depari tidak mengenal tempat atau harus berada ditempat yang tenang dengan suatu perencanaan. Akan tetapi ia menghasilkan karya-karya nya dengan apa yang dilihatnya. Media yang digunakannya pun adalah media yang sangat sederhana dengan bermodalkan kertas dan pena saja. Salah satu lagu ciptaannya yang khusus didedikasikan kepada Letnan Kadir, dituliskannya diatas kertas dengan berbahasa Karo.

LETNAN KADIR
Erdengus nggurisa kabang ibabo uruk marding-ding
Ijem pengadi-ngadin Letnan Kadir
Morah ula morahan, tangis gia ula tangis
Enggo gia lawes nadingken kita
Ku inganna pagi rasa lalap
Jasa-jasana labo terlupaken kita

O kam putra putri rakyat Karo

Menggo seh bandu berita enda
Letnan Kadir berjuang i taneh karo

Reff:

Gundari enggo sinanami kuga kin situtuna
Sura-suranta enggo menda muro
Mburo kerina rikutken mejauh-juah
O bapa Letnan Kadir
Totoken kami kena mejuah-juah
Totoken kami tendindu mejuah-juah

Strategi yang dilakukan oleh Djaga Depari dan teman-temannya adalah dengan keluar masuk kampung untuk mengadakan pertunjukan-pertunjukan sambil menyanyikan lagu-lagu perjuangan yang telah mereka ciptakan. Hal ini dilakukan untuk menebar semangat kepada rakyat melalui alunan lagu-lagu tersebut. Maka tidak heran mengapa syair lagu-lagu tersebut sangat simpel dan mudah diingat hanya dengan sekali mendengar saja. Alasannya adalah agar mudah dihafal oleh masyarakat dan akan menjadi sebuah motivasi yang akan mendatangkan simpati masyarakat.

Djaga Depari adalah seorang komponis asal Tanah Karo, yang lahir pada tanggal 5 Mei 1922 di desa Seberaya. Beliau merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Karya-karyanya semasa mempertahankan kemerdekaan telah banyak mempengaruhi semangat perjuangan.

Berikut adalah beberapa karya alm. Djaga Depari :
Andiko Alena
Angin si Lumang
Ariko Kena
Bintang Similep-Ilep
Bolo-Bolo
Bunga-Bunga Ngeluh
Bulan Purnama Raya
Bunga Dawa
Cit Nina Pincala
Diding-Diding Salam Merdeka
Erkata Bedil
Erkata Pet-Pet
Family Teksi
Gelombang Erdeso
Gula Tualah
Io Io Lau Beringin
Jumpa La Banci
Kuda Gara
Lampas Tayang Melawen Tunduh
Lasam-Lasam
Mbaba Kampil
Mbuah Page
Mejuah-Juah
Membas-Embas
Nangkih Deleng Sibayak
Ndigan-Ndigan
Pecat-Pecat Seberaya
Perkantong Samping
Pinta-Pinta
Pio-Pio
Piso Surit
Purpur Sage
Roti Manis
Rudang Mayang
Rudang-Rudang Mejile
Sibincar Layo
Simulih Keraben
Sora Mido
Sue-Sue
Taneh Karo Simalem
Terang Bulan
Tunduh-Tunduh
Usdek
Wayahe-Wayah


Baca Juga :
Biografi Djaga Depari
Karya Alm. Djaga Depari 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar