Taneh Karo Simalem Bumi Turang

30 April 2019

Nabung Surbakti Panglima Perang Pahlawan Dari Tanah Karo

Nabung Surbakti adalah panglima perang pasukan Sunggal. Perang Sunggal (Perang Karo) adalah perang terlama di Indonesia terhadap penjajah Belanda selama 23 tahun yang terjadi pada tahun 1872 dan berakhir pada tahun 1895. Setelah hancurnya Sunggal, kemudian dilanjutkan lagi oleh Nabung Surbakti yang membuat markasnya di Tanduk Benua. Perang tersebut terjadi kurang lebih selama 3 tahun.

Nabung Surbakti atau sering juga dipanggil Pulu Juma Raja. Lahir di desa Bunga Pariama, sebuah kampung yang sekarang ini berada di Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deliserdang, TANAH KARO. Nabung Surbakti adalah Panglima Perang Pasukan Sunggal, yang mampu mengerahkan 1.000 orang lebih pasukan Simbisa. Para Simbisa dibawah pimpinan Panglima Nabung Surbakti bersama pasukan Urung Sunggal Serbanyaman dibawah pimpinan Datuk Jalil Surbakti dan Datuk Sulung Surbakti melawan tentara Belanda dan tentara Sultan Deli. Sultan Deli yang tidak memiliki pasukan bersama Pangeran Langkat meminta bantuan Belanda untuk memerangi rakyat Karo.

Trio Surbakti melakukan perlawanan terhadap kolonialis Belanda adalah Badiuzzaman Surbakti, Madini Surbakti dan Nabung Surbakti. Ketika kolonialis Belanda berhasil memperdaya Badiuzzaman Surbakti dan Madini Surbakti dan mengasingkan mereka ke Cianjur, Jawa Barat. Maka panglima perang Nabung Surbakti melanjutkan perlawanan perang gerilya melawan Belanda.

Perang Tanduk Benua tidak bisa dipisahkan dari sejarah panjang Perang Sunggal. Perang Tanduk Benua ini terjadi ketika kolonialis Belanda yang bekerjasama dengan Sultan Deli mencaplok tanah ulayat masyarakat Karo untuk dijadikan perkebunan tembakau.

Setelah Sunggal jatuh ke tangan Belanda, Belanda mengira rakyat Karo akan menyerah. Namun secara mendadak, sering terjadi serangan pada malam hari yang terkenal dengan gerakan musuh Berngi. Bangsal perkebunan tembakau milik Belanda dan pondokan-pondokan karyawan dibakar oleh Nabung Surbakti dan pasukannya.

Nabung Surbakti selalu mengambil gunung atau bukit sebagai benteng pertahanan sekaligus basis perjuangannya. Bagi Belanda, Nabung Surbakti tidak bisa diajak kompromi. Oleh karena itu dengan segenap daya harus dihabisi agar perkebunan tembakau kolonialis Belanda dapat terus berlangsung. Perang Sunggal yang dimulai dari tahun 1872 dan terus menerus hingga sampai ke dataran tinggi Karo.

Nabung Surbakti akhirnya terdesak dari benteng pertahanannya di Tanduk Benua. Lalu mundur ke Tigabinanga sekaligus untuk memudahkan berkoordinasi dengan teman-teman pejuang lain di sekitar Tiga Binanga, Juhar dan pejuang dari Alas dan Gayo.

Akhirnya Nabung Surbakti tertangkap oleh pasukan Belanda di Bukit Padiam dan melumpuhkannya dengan tembakan ke perutnya, dan diarak melewati beberapa desa. Nabung Surbakti digelandang dan dipertontonkan kepada orang-orang di desa. Desa yang dilewati yaitu, desa Kidupen, desa Jaberneh, desa Pergendangen dan desa Gunung. Kemudian di adili di Jambur Tengah di desa Gunung.

Nabung Surbakti di persekusi disepanjang jalan dan terakhir di tembak mati di tepian sungai Lau Gunung di dekat Desa Kuala Kecamatan Tigabinanga. Sahabatnya bermarga Sebayang menguburkan Nabung Surbakti diladangnya di desa Kuala. Itulah teror yang dilakukan Belanda untuk menakut-nakuti rakyat di kawasanh tersebut.

Keberanian yang tak bertara melekat pada diri Nabung Surbakti. Di keberaniannya melekat kebenaran, kejujuran dan ketulusan perjuangan bagi rakyat dan negerinya. Nama Nabung Surbakti kemudian diabadikan menjadi sebuah nama jalan di Kabanjahe. Hal ini merupakan bukti penghormatan sekaligus penghargaan terhadap jasa jasa yang di berikan beliau semasa hidupnya.


Sekian Cerita Singkat Nabung Surbakti Panglima Perang Sunggal dan Tanduk Benua.
Apabila Ada Yang Ingin Ditambahkan, Silahkan Tambahkan Di Kolom Komentar.
Terima Kasih.
MEJUAH JUAH


SUMBER :
Tarigans VarJonathan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar